Perintah Allah swt kepada Nabi Ibrahim sungguh sangat sulit. Ini merupakan suatu ujian yang begitu berat. Dapatkah kita bayangkan. Dapatkah kira rasakan jika terjadi pada diri kita. Di saat kebahagian memiliki seorang putra yang didamba-dambakan dan belum selesai ia merasakan keceriahnya anak bercengkaram dengan keluarga. Terbesit perintah menyembelih Ismail. Perintah tersebut datang lewat mimpi. Nabi Ismail merupakan putra Nabi Ibrahim dari Siti Hajar.

Inilah yang membuat Nabi Ibrahim diuji keimananya. Seberapa bijak dan takwanya Nabi Ibrahim memaknai mimpi untuk menyembelih putranya. Beliau dihadapkan pada masalah. Kapan Allah mengembalikan Nabi Ismail kepada Nabi Ibrahim. Ada yang mengira saat Tuhan mengirimkan kambing sebagai korban pengganti Ismail. Tetapi Jawaban itu tidaklah cukup. Ismail dikembalikan saat Nabi Ibrahim bersedia mengorbankannya di Jalan Allah swt. Akankah Ia berusaha dengan sekuat tenaga atau malah patah arang dan menyalahkan Allah swt.. Butuh tiga hari baginya untuk menentukan sikap karena itu, tiga hari itu disebut yaumu tarwiyah, yaumu arafah, dan yaumu narh.

Tiga hari ini yang menentukan Ibrahim sebagai nabi pengemban risalah agama Tauhid. Hari pertama adalah hari disebut yaumu tarwiyah. Pada hari ini awal Ibrahim mendapatkan mimpi yang begitu menggelisahkan hati. Ia mulai ragu dan gelisa. Ia merenung dan banyak berpikir atas kegelisahan-kegelisahan terhadap dirinva. Apakah mimpi itu dari Allah swt atau setan sebagai penggangu manusia sampai akhir jaman. Hari ini disebut hari yang menjadi suatu perenungan Nabi Ibrahim terhadap apa yang datang dalam mimpinya.

Sebuah hikmah untuk umat Islam bahwa Rasulullah saw juga menganjurkan umatnya untuk merenung terhadap akan apa yang telah dilakukan. Pada yaumu tarwiyah ini apakah benar jalan yang dilakukan telah sesuai dengan yang diperintahkan atau malah menyimpang. Umat Islam dianjurkan banyak merenungkan kegelisahan dan keresahan terhadap permasalah masa kini jika dikaitkan dengan peristiwa Nabi Ibrahim.

Selanjutnya adalah hari kedua yaitu yaumul arafah. Di hari kedua ini barulah Nabi Ibrahim sampai pada suatu pengetahuan (arafah) tentang masa lalu. Itulah motif dari perintah Allah swt menyuruhnya menyembelih putra kesayangan bernama Ismail. Di hari kedua ini, Nabi Ibrahim pada akhirnya tahu bahwa memang benar ia pernah berjanji. Dulu Nabi Ibrahim adalah seorang dermawan. Ia banyak memberikan beberapa hewan ternaknya tiap tahun untuk disembelih dan dibagikan sebagai kepada orang lain karena perintah Allah swt. Pernah suatu hari ia berjanji bahwa tidak hanya hewan ternaknya yang diberikan bahkan ia akan menyembelih putranya seandainya diberikan keturunan, asalkan dengann-Nya bisa membuat lebih dekat.

Sebenarnya, di hari kedua ini lebih pada pengujian amanah dan janji Nabi Ibrahim sendiri, seberapa beliau menjadi seorang yang amanah dan menepati janji. Tidak mungkin seorang diangkat menjadi nabi jika tidak amanah dan tidak menepati janji, bahkan secara naluri manusiawi hal itu sangat tidak beralasan. Amanah ini pula yang menjadi ujung tombak munculnya semangat dan jiwa pemimpin yang membawa perubahan positif bagi keturunan umatnya kelak.

Hari ketiga disebut yaumu nahr. Nabi Ibrahim akhirnya berada pada suatu keyakinan bahwa beliau harus menepati janji. Ia harus menjalankan amanah untuk menyembelih putranya Nabi Ismail sesuai yang diperintahkan Allah swt, walaupun perintah itu yang datang di dalam mimpi. Akhirnya Nabi Ibrahim menjadi seorang yang amanah dengan suatu proses yang tidak mudah. Berawal dari perenungan panjang, pemantapan keyakinan, dan proses penyembelihan terhadap perintah Allah swt  yang begitu berat. Demikian tiga hari yang menentukan sehingga menjadi sejarah bagi kita bersama umat Islam dalam menjalankan ibadah dan menjadi suatu sunah untuk merenungi kembali makna sejarah di hari arafah ini.

Tags: 
Penulis: 
Dwi Masdi Widada