Indahnya Berkelana di Negeri Para Sufi

By: Syaiful Mustofa

Alhamdulillah, sejak keberangkatan tanggal 9 Oktober lalu tidak terasa sudah 15 hari ini saya berada di bumi para sufi, Maroko. Sebuah negara di belahan Afrika Utara, terletak beberapa kilometer saja dari benua Eropa, berbatasan langsung dengan Spanyol yang hanya terpisah oleh selat Gibraltar (baca; Jabal Thoriq) yang memiliki seribu pesona sehingga banyak dikunjungi wisatawan asing.

 

Maroko adalah negeri yang memiliki peranan penting dalam sejarah penyebaran Islam di Spanyol. Seorang panglima perang Thoriq bin Ziyad terlahir di Maroko berhasil menaklukkan Andalusia dan mengibarkan bendera Islam di daratan Eropa. Islam mencapai puncak kejayaan di Andalusia; ilmu pengetahuan, kebudayaan, perekonomian dan pranata sosial, sehingga mempengaruhi perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan bangsa Eropa saat ini. Pada saat itu, Maroko dikuasai Dinasti al-Qorowiyyin, kemudian berganti ke Dinasti al-Muwahhidun.

Banyak ulama' besar lahir di Maroko, diantaranya Syeh Sonhaji pengarang kitab al-Jurumiyyah, kitab kecil tata bahasa yang wajib dikaji oleh santri di Indonesia. Imam at-Tijany seorang ulama' sufi, kemudian menjadi thoriqoh besar di Indonesia, Tijaniyyah dan Satariyyah, Abdurrauf as-Singkly (1615 M), Syeh Muhyi Pamijahan (1650 M) Kyai Agung Muhammad Besari, dan Maulana Maghriby penyebar Islam pertama di Jawa.

Ada juga seorang petualang Islam terkenal Ibnu Batutah (1300 M), makamnya di Thonjah (baca; Tanger) dekat perbatasan Spanyol. Umur beliau dihabiskan untuk mengelilingi dunia melalui darat dan laut, terutama mengunjungi kerajaan-kerajaan Islam yang ada di belahan dunia, beliau berkeliling dunia dari tahun 1330 M sd 1349 M. Termasuk mengunjungi kerajaan Samudera Pasai di Sumatera pada era Sultan Mahmud Zahir. Dalam petualangannya, IbnuBatutah sempat melakukan ritual ibadah haji sebanyak 7 kali di Mekkah.

Petualangan Ibnu Batutah ini mengilhami para ilmuwan barat untuk ikutan berpetualang. Tepatnya 125 tahun pasca Ibnu Batutah kemudian, para penjelajah Eropa seperti Christopher Columbus, Vas co de Gama, Marcopolo dan Magellen mulai berlayar. Itulah sepenggal cerita luar biasa dari sang petualang muslim yang hamper terlupakan dalam sejarah.

Penelitian Hingga Promosikan Budaya Indonesia

Tugas utama saya di Maroko adalah memperkenalkan peradaban Islam Nusantara, budaya dan pernak-perniknya ke kampus-kampus besar yang ada di Maroko. Kampus yang sudah kami kunjungi dan melakukan pembicaraan intensif dengan pimpinan untuk mengatur jadwal seminar adalah kampus Mohammad al-Khomis (diterima Dekan & para wakil dekan) dan kampus Darul Hadits al-Hassaniyah Rabat (diterima Rektor& para wakil Rektor). Seminar itu dibagi menjadi 3 bagian; untuk mahasiswa Strata satu (S1), program Master (S2) dan para dosen. Disamping itu, tugas pokok yang lain adalah mengadakan penelitian, mencari dan melacak referensi di berbagai perpustakaan. 

Napak Tilas Ulama’ Masyhur Maroko

Di sela-sela kegiatan, saya sempatkan dua hari untuk berkunjung ke kota para wali Marakes untuk napak tilas kejayaan peradaban Islam di saat itu, perjalanan 320 KM arah Selatan Rabat ibukota Maroko. Alhamdulillah bisa tawassul ke beberapa ulama' besar yang menjadi panutan kaum muslimin di Indonesia, diantaranya:

  1. Sayyid Mohammad Sulaiman al-Jazuly (1565 M), penulis kitab Dalailul Khoirot. Kitab ini dikaji hampir di seluruh penjuru pesantren Indonesia, bahkan dibaca setiap hari oleh para santri pengamal Dalail, tentu harus melalui bai'at terlebih dahulu.
  2. Sayyid Abdul Aziz at-Tiba'i (1582 M), lahir di Marakes, sempat belajar di kota Fes + 150 KM arah utara Rabat, kota kelahiran pengarang kitab al-Jurumiyah, Syekh Sonhaji) seorang wali masyhur. Beliau salah satu murid Sayyid Mohammad Sulaiman al-Jazuly.
  3. Al-'Iyadh bin Musa (1083 M), ulama' ahli fiqh yang masyhur dikalangan pecinta ilmu fiqh, dalam kajian kitab kuning terkenal dengan sebutan al- Qodhi. Jika dalam kitab fiqh ada sebutan al-Qodhi, berarti yang dimaksud adalah Al-'Iyadh bin Musa. Nama beliau diabadikan menjadi nama kampus "Qodhi 'Iyadh" (bhs Perancis; Cadi Ayyad) di kota Marakes.
  4. Sayyid Abul Abbas Ahmad bin Ja'far al-Khojrozy, beliau lebih terkenal dengan sebutan Sayyid Abul Abbas as-Sibty (Sibtah, nama kota kelahirannya) (1204 M). Beliau tokoh thoriqoh Al-Qodiriyah, sanadnya langsung ke Syekh Abdul Qodir al-Jilany.
  5. Abu Mohammad Abdullah bin Ajjal al-Ghozwany. Wali besar murid Syekh at-Tiba'i penganut Thoriqoh Syadzaliyah Jazuliyyah yang berdiri atas cintanya pada Rasul dengan bersholawat atasnya dan membiasakan dzikir pada Allah. Adapun pertemuan sanadnya pada Syeh Jazuly melalui gurunya, Syekh at-Tiba'i.
  6. Sayyid Yusuf bin Aly as Sonhaji (1196 M), beliau terkenal dengan sebutan Shohibul Ghory (manusia gua) karena sering berkholwat ke gua untuk berdzikir kepada Allah SWT, thoriqohnya yang terkenal Saniyyah Junaidiyyah, yang berkiblat pada Imam Junaidy.
  7. Abdurrahman bin Abdullah as-Suhaily (1185 M), beliau hidup dengan keadaan faqir. Dengan kecerdasannya yang luar biasa, ia mampu menghafal al-Qur'an dengan cepat, mempelajari ilmu hadits, fiqh, bahasa dengan bimbingan ayahnya sendiri, kitabnya yang terkenal; Faroid, Nailul Fikry, dll.

(bersambung …)

 

Salam inspirasi, Terimakasih.

Maroko, 25 Oktober 2015

Tags: 
Penulis: 
Syaiful Mustofa