Agama Sejatinya Ketulusan

“Betapa indahnya jika rasa saling mengalah dan mengakui kesalahan di momen hari raya selalu tercermin dalam kehidupan sehar-hari”

-Agung Prasetiyo- 

 

Momen hari raya (Idul Fitri: red) banyak dimanfaatkan oleh khalayak masyarakat untuk saling berkunjung ke rumah sanak saudara. Tak hanya itu, pada kesempatan ini, setiap orang juga saling meminta maaf dan saling memberi maaf, tak terkecuali Civitas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Momen tersebut juga dimanfaatkan dengan mengadakan acara halal bi halal yang berlangsung hari ini di Aula Gedung Ir. Soekarno. Para pimpinan, dosen dan karyawan sangat antusias mengikuti acara ini, terbukti dari banyaknya civitas yang hadir memenuhi lokasi acara.

KH Marzuqi Mustamar, Dosen UIN Maulana Malik  Ibrahim Malang didapuk menjadi narasumber tausiyah halal bi halal idul fitri menyampaikan dengan gamblang apa makna dari fitri. Menurut beliau kata , الفطرة هي الأصالة, kata fitri maknanya adalah asholah atau dalam Bahasa Indonesia bermakna asli, apa adanya.

Beliau juga mengatakan jika sejatinya agama adalah ketulusan, bukan modus, الدين هو النصحية. Artinya agama menuntun seseorang untuk menginginkan kebaikan baginya dan bagi orang lain . Ketulusan harus dhohir batin supaya tidak تغرير.   

Kyahi kelahiran Blitar ini menyontohkan biasanya usai salat, Nabi menghadap ke utara. Tujuannya untuk mengabsen apakah jamaah salat lengkap atau tidak dan bukan untuk maksud lainnya. Jika ada salah satu jamaah yang tidak hadir karena sakit, usai salat Nabi mengajak jamaah menjenguknya.

Ketulusan dalam beragama juga dicontohkan nabi tentang menikah yang disebut sebagai sebagai sunnah rasul. Nabi Muhammad SAW menikahi khodijah pada usia 25 tahun dan sampai khadijah wafat, Rasul baru menikah lagi. Yaitu dengan Aisyah pada waktu itu umur Aisyah delapan tahun. Selain agar rasul dapat mempelajari proses haid dan juga agar Aisyah dapat meneruskan dakwah beliau mengingat usia Aisyah masih lebih muda.

Tak hanya Nabi, ketulusan dalam beragama juga diikuti oleh Sayyidana Ali. Ketika beliau akan menyambuk peminum khomr, peminum khamr tersebut malah meludahi sahabat Ali. Namun Ali justru melepaskan peminum khamr tersebut dan tidak jadi mencambuknya. Ketia ditanya, Ali menjawab “aku mencambuk karena aku melaksanakan aturan syariat, namun ketia ia meludahi mukaku, aku tidak jadi menyambuknya karena aku khawatir jika dhohirku seakan-akan menegakkan agama Allah tapi batinku balas dendam. Betapa nabi dan sahabat Ali menyontohkan agar kita benar-banar tulus dhohir batin dalam beragama.

 

Malang, 13 Juni 2019

 

Tags: