MEMAHAMI HAKIKAT KEBAHAGIAAN PADA ORANG

Kebahagiaan adalah sebuah impian di mana semua orang ingin memilikinya. Tidak ada seorang pun yang ingin menderita hidupnya. Namun, tidak semua orang tahu akan kriteria bahagia secara kaffah. Dalam pandangan Islam, seseorang yang bahagia adalah seorang mukmin sholeh yang selalu taat akan menunaikan hak-hak Tuhannya dan memenuhi hak-hak akan makhluk lainnya dengan berpedoman kepada svriat, baik lahir maupun batin.
Kebahagiaan bukanlah barang komersil yang dapat dihitung dengan pasti. Kadar kebahagiaan pun berbeda nilai antarmanusia. Seorang manusia tidak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan apabila dalam dirinya selalu penuh akan keinginan. Ia lupa bersyukur dengan apa ang dimilikinya. Orang seperti ini masuk ke dalam kategori kufur nikmat. Ia tidak akan pernah puas akan nikmat yang didapatknnya karena Allah SWT telah mencabut rahmat dirinya.

“Katakanlah: Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan" (QS Yunus: 58).

Di dunia ini, kebahagiaan adalah sebuah fatamogana yang dapat menyesatkan manusia. Kebahagiaan akan menjadi berbahaya apabila seorang manusia menjadi budak olehnya tanpa bisa mengendalikannya. Kebahagiaan akan bemanfaat apabila mampu mengantarkan manusia kepada kebahagiaan yang hakiki, bahagia dalam akhratnya. Manusia akan dapat meraih kebahagiaan di akhirat apabila ia mampu mengendalikan kebahagiaan di dunia tanpa tertipu akan keindahan dunia.
Dalam kitab Nashoihul ‘Ibad, ada yang mengatakan bahwa terdapat tiga tanda orang paling bahagia, yaitu orang yang memunyai hati alim, berperilaku sabar, dan bersikap puas. Orang yang memunyai hati alim di mana seseorang menyadari bahwa Alla SWT senantiasa menyertai di mana saja ia berada. Berperilaku sabar di mana seseorang sabar baik dalam menunaikan perintah agama maupun dalam menghadapi cobaan. Bersikap puas di mana seseorang menerima apa adanya. Sikap puas muncul dikala tidak ada harapan yang lain.
Allah SWT tidak akan membiarkan seorang hambanya yang beriman untuk hidup dalam kesengsaraan. Allah SWT memberikan ujian untuk menilai layak atau tidak hamba tersebut diberi kebahagiaan. Ketika seorang mukmin mampu melewati ujianNya, maka Allah SWT telah menambahkan kebahagiaan terbesar melainkan akan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Sungguh menajubkan keadaan orang-orang yang beiman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yag beriman. Sesungguhnya seluruh keadaan orang yang beriman hanya akan mendatangkan kebahagiaan untuk dirinya. Demikian itu tidak pernah terjadi kecuali untuk orang-orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kesenangan maka ia akan bersyukur dan hal tersebut merupakan kebaikan untuknya. Namun jika ia merasakan kesusahan maka ia akan bersabar dan hal tersebut merupakan kebahagiaan untuk dirinya.”
(HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Seorang mukmin selalu menjaga ketakwaan kepada Tuhan seolah ia beribadah dengan melihat Allah. Ketika ia tidak mampu melihat Allah, ia yakin bahwa Allah senantiasa melihatnya. Akhlak mulia menjadi sebuah cerminan seseorang manusia yag penuh kebahagiaan. Ia tidak pernah merasakan ujian sebagai penderitaan, melainkan sebuah kenikmatan yang masih bisa disyukuri.
Dari Abdullah bin Amr bn Al-Ash ra, Lima hal, jika dimiliki seseorang, maka ia berbahagia di dunia dan akhirat. Pertama, menyebut ‘La Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah’ dari waktu ke waktu. Kedua, jika menerima bencana menyebut ‘Innaa Lillahi wa Inna Ilaihi Raaji’un’. Ketiga, jika dianugerahi nikmat menyebut ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin’ sebagai mensyukuri nikmat tersebut. Keempat, bila memulai sesuatu mengucapkan ‘Bismillahi Rahmaanir Rahim’. Kelima, jika telanjur berbuat dosa mengucap ‘Astaghfirullahal ‘Adziim wa Atuubu Ilaih’.”
Jika mayoritas manusia kebingungan mengenai jalan yang harus ditempuh menuju bahagia maka hal ini tidak pernah dialami oleh seorang mukmin. Jalan kebahagiaan seorang mukmin sudah terpampang jelas dihadapannya. Allah SWT telah memberikan banyak kabar gembira kepada mukmin melalui wahyu yang telah disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa Jalan yang ditempuh telah benar dan sesuai yang ditunjukkan Allah SWT. Ancaman berupa peringatan kepada orang yang lalai kepada Allah SWT atas apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan petunjuk Allah SWT.

“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam svurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya." (QS Huud: 106 - 108).

Kebahagiaan seorang mukmin bukanlah kedalaman ilmu yang dimiliki atau derajat tinggi di mata manusia, melainkan semakin dekatnya dengan Allah. Terdapat keikhlasan atas setiap amal yang dilakukannya demi mengharap keridhoan dari Allah SWT. Kebahagiaan seorang mukmin akan berkurang apabila berkurang pula kedekatannya dengan Allah SWT. Mukmin sejati pasti tidak memiliki kekhawatiran di dalam hatinya karena menyadari bahwasanya ia memiliki Tuhan yang mengatur segala sesuatu dengan kehendak-Nya.
Kebahagiaan adalah sebuah hal yang abstrak, tidak dapat diukur dengan angka-angka tertentu dan tidak dapat dibeli dengan uang. Seorang manusia tidak akan mampu memprediksi di mana dan kapan akan mendapatkan kebahagiaan. Kebahagiaan adalah sebuah kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya yang mampu dirasakan oleh hati. Puncak kebahagiaan bersumber dari ketenangan hati dan kenyamanan batin.

Tags: 
Penulis: 
Dwi Masdi Widada