Seminar Internasional Jadi Pembuka  International Education Festival 2018

 

Diisi dengan Serangkaian Kompetisi PAI se-Jawa-Bali

FITK NEWS – Perkembangan global yang sangat pesat menuntut dunia pendidikan untuk terus berbenah. Selain up date informasi, menanamkan nilai-nilai keislaman bagi peserta didik agar menjadi pribadi ilmuan dan religious juga tak kalah pentingnya. Sadar akan hal tersebut, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pendidikan Agama Islam (PAI) menyelanggarakan seminar internasional dengan mengundang dua narasumber andal yaitu Prof. Dr. Zahrah binti Hussain dan Prof. Dr. Ahmad Fuad Effendy. Acara belangsung di Aula Gedung Soekarno, Kamis (1/11) lalu. Seminar internasional ini menjadi pembuka gebyar International Education Festival 2018 yang digagas oleh HMJ PAI . Kegiatan diisi dengan serangkaian kompetisi antar kelas, jurusan, serta olimpiade PAI se-Jawa-Bali. 

Menurut Prof. Zahrah, teknologi informasi akan terus berkembang sesuai tingkat keilmuan yang dikuasai dan kebutuhan zaman. “Yang perlu diperhatikan adalah apakah teknologi tersebut tepat guna apa tidak”, ujar Prof. Zahrah. Berdasarkan pengamatan Prof. Zahrah, banyak terjadi distori oleh generasi muda dalam menggunakan kemudahan teknologi canggih saat ini. Buktinya meskipun memiliki media teknologi canggih namun perilakunya malah kurang baik.

“Sikap negatif tersebut dapat kita temui saat berinteraksi di dunia maya. Makanya ayo kita terus menyesuakan arus globlisasi dengan tetap menerapkan nilai-nilai keislaman,” kata Prof. Zahrah.

Sementara Prof. Fuad juga berpendapat untuk tidak menutup diri di zaman industri 4.0 saat ini. Dikatakan jika teknologi canggih justru menjadi sarana efektif  dan efisien berdakwah dengan menyasar generasi muda. “Teknologi canggih saat ini menjadi jembatan kita untuk menyebar nilai positif keislaman kepada generasi muda,” imbuhnya.

Dewan pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Centre of Arabic Language tersebut juga menuturkan salah satu keuntungan mengikuti era industri 4.0 adalah tidak mudah termakan hoax. Sebab era informasi digital tentu dapat menjadi tempat yang tepat untuk memeriksa kembali apa yang sudah kita terima sebagai tabayyun. “Semoga tidak ada lagi masyarakat yang termakan kontroversi jika tahu bagaimana ber-tabayyun menggunakan teknologi,” tambahnya.