Lincah Torehkan Tinta, Iánatut Thoifah Giat Berkarya

Di usia yang tergolong muda, 25, Iánatut Thoifah kian ulet dan cerdik memupuk talentanya. Dosen International Class Program (ICP) FITK UIN Maliki Malang yang dikenal dengan nama pena I’ana Penoreh Tinta (IPT) ini tak hanya sibuk mengajar. Banyak profesi yang ia geluti untuk mengikis rasa hausnya akan ilmu dan pengalaman baru, seperti menjadi penulis dan public speaker andal.

Dengan segudang bakat dan ilmu yang ia kuasai, jari-jarinya lincah menarikan ide-ide kreatif menjadi judul-judul buku baik fiksi maupun non fiksi. Di tahun 2013, novel berjudul Serasa Bukan Serasi berhasil dicetak dan diterbitkan sebanyak 1000 eksemplar. Novel tersebut tergolong unik karena berbeda dari teenlit pada umumnya. Bukan hanya mutiara-mutiara cinta yang siap menemani pembaca mengarungi eloknya segara cinta. Dara asal kota Seribu Goa tersebut mahir menyisipkan syair-syair manis bernuansa Islami. Sehingga cinta dipahami oleh remaja sebagai keindahan cinta dan ketenangan kalbu pada Sang Pencipta, bukan menjadi sebuah ketakberdayaan logika.

Passion menulis wanita pecinta sastra ini ternyata semakin membuncah di tahun 2015. Terbaru, dia merilis beberapa karya berjudul Manajemen Dakwah, Statistika Pendidikan dan Metode Penelitian Kuantitatif, serta Musabaqah Syarhil Qurán. Berbeda dari karya sebelumnya, buku ini bersifat lebih serius dan diorientasikan sebagai buku pegangan akademik.

Ketika ditanya tentang ide-ide segar yang selalu bermunculan, peraih gelar wisudawan terbaik UIN Maliki Malang tahun 2011 ini tersenyum manis dan menjawabnya dengan santai. Dia menjelaskan jika seseorang harus terampil meramu cerita kehidupannya agar layak dikonsumsi masyarakat. Sebab, banyak karya dara kelahiran 17 September 1989 ini bermula dari pengalaman pribadinya.

Manajemen Dakwah terinspirasi saat mengikuti ajang Da’i Muda Indonesia MNC TV live Ramadhan 2014. Begitu pula dengan Musabaqah Syarh al-Qur’an, buku ini berdasarkan pengalamannya di festival MTQ cabang Syarh al-Qur’an Nasional Mahasiswa 2014. Karena banyak ilmu yang diperoleh selama masa karantina, tak ada salahnya untuk meracik menjadi sebuah buku. Sedangkan, buku lainnya termotivasi oleh perannya sebagai dosen pengampu mata kuliah tersebut. “Simpel aja kan idenya? Waktunya juga lumayan singkat. Hanya 2 hingga 3 bulan. Makanya ayo menulis,” ungkap Penoreh Tinta

Di akhir perbincangan siang itu, Penoreh Tinta pun berbagi kiat untuk mengasah produktivitasnya. Wanita yang sempat menyandang gelar musyrifah favorit Ma’had Sunan Ampel Al Ály (MSAA) ini membeberkan jika rahasia kesuksesannya berasal dari iktikad kuat. “Tidak semua orang pintar punya tekad kuat, namun orang yang punya tekad kuat pasti bisa pinternya” pungkas Penoreh Tinta yang siap meluncurkan novel keduanya berjudul Muara Statistika ini (dw)

Penulis: Dewi Nur Suci