{"id":2892,"date":"2016-05-02T03:37:02","date_gmt":"2016-05-02T03:37:02","guid":{"rendered":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/index.php\/2016\/05\/02\/kembalikan-fitrah-pendidikan\/"},"modified":"2016-05-02T03:37:02","modified_gmt":"2016-05-02T03:37:02","slug":"kembalikan-fitrah-pendidikan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/kembalikan-fitrah-pendidikan\/","title":{"rendered":"Kembalikan Fitrah Pendidikan!"},"content":{"rendered":"<p class=\"rtejustify\"><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, dialah orang yang&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">beruntung. Begitulah Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita, bahwa&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">setiap hari harus ada peningkatan, ada trafik perkembangan ke arah&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">yang lebih baik. Sebab, siapa yang hari ini masih sama dengan kemarin,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">disebut orang rugi. Meminjam istilah pesantren, \u201cwujuduhu ka&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">\u2018adamihi\u201d, adanya seperti tidak ada.<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Yang lebih parah lagi, siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">dialah orang yang celaka, nasibnya sial dan ujung-ujungnya akan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">berakhir pada penyelasan.<\/span><br \/>\n&nbsp;<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<p class=\"rtecenter\">&nbsp;<\/p>\n<p class=\"rtecenter\"><span style=\"font-size:22px\"><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif\">Kembalikan Fitrah Pendidikan!<\/span><\/span><br \/>\n<strong><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">By R. Taufiqurrochman<\/span><\/strong><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">&nbsp;<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, dialah orang yang&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">beruntung. Begitulah Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita, bahwa&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">setiap hari harus ada peningkatan, ada trafik perkembangan ke arah&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">yang lebih baik. Sebab, siapa yang hari ini masih sama dengan kemarin,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">disebut orang rugi. Meminjam istilah pesantren, \u201cwujuduhu ka&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">\u2018adamihi\u201d, adanya seperti tidak ada.<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Yang lebih parah lagi, siapa yang hari ini lebih buruk dari kemarin,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">dialah orang yang celaka, nasibnya sial dan ujung-ujungnya akan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">berakhir pada penyelasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Dunia pendidikan kita hari ini tercoreng dengan adanya kasus tawuran&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">antara pelajar. Pemerintah, guru, orang tua, para pemerhati pendidikan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">dan bahkan masyarakat juga kebingungan bagaimana mengatasi hal itu.&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Oleh sebab itu, bagaimana pun pendidikan harus kembali ke \u201crel\u201d-nya,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">yakni mendidik anak menjadi manusia yang sempurna, memahami dirinya&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">sendiri dengan benar dan muaranya, ia dapat mengenali Tuhan-Nya dan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">mendekat kepada-Nya. Inilah intisari pendidikan.<\/span><\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-2891\" alt=\"\" src=\"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/wp-content\/uploads\/2016\/05\/hari-pendidikan.jpg\" style=\"border-style:solid; border-width:1px; float:left; height:300px; margin-left:12px; margin-right:12px; width:200px\" width=\"720\" height=\"1002\" \/><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Pendidikan yang hanya bersifat \u201ctransfer ilmu pengetahuan\u201d hanya akan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">melahirkan pendidikan formalitas yang kering akan nilai-nilai moral,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">apalagi nilai keagamaan. Pada akhirnya, sekolah hanya akan menjadi&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">rutinitas belaka, untuk mengisi waktu luang, mencari teman bermain,<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">membentuk kelompok dan gang, lalu sekolah menjadi \u201cmarkas\u201d untuk&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">saling memupuk kekuatan dan mencari permusuhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Pendidikan yang hanya mengajarkan ilmu lisan dan ilmu tulisan, hanya&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">akan mewujudkan pendidikan yang hampa. Padahal, selain itu, para&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">pendidik perlu memberi \u201cilmu haal\u201d, yakni contoh yang benar, teladan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">yang baik, prestasi yang bisa ditiru dan dibanggakan oleh peserta&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">didiknya. Tanpa teladan dari guru, peserta didik seperti belajar di&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">ruang hampa yang hanya berisi \u201comong kosong\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Pendidikan semestinya memberikan cahaya. Sekolah harusnya menjadi&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">pelita bagi peserta didik. Sebuah tantangan besar, bagaimana caranya&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">menjadikan sekolah, kampus dan lembaga pendidikan sebagai tempat yang&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">amat dirindukan oleh para siswa. Kenyataannya, saat ini, anak-anak&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">kita malah seperti masuk penjara saat mereka berangkat ke sekolah dan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">seakan bebas lepas dari segala tekanan saat pulang sekolah. Sekolah&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">begitu menakutkan, sangat menekan jiwa, penuh derita dan hal-hal lain&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">yang menghimpit kejiwaan siswa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Bila kondisi \u201cterkekang\u201d itu dibiarkan, maka mereka akan mencari saat&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">lain dimana mereka bisa mengekspresikan segala emosinya. Karenanya,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">tak heran bila para siswa kita gampang marah, mudah tersinggung dan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">tidak mengerti sopan santun. Sekali mereka diusik oleh siswa dari&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">sekolah lain, darahnya mendidih. Semua penat dan stres di jiwa, mereka&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">tumpahkan dalam tawuran dan saling jotos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Pendidikan semestinya juga harus bebas dari politik kekuasaan.&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Panggung politik yang ikut ditampilkan di dunia pendidikan, hanya akan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">mengajarkan kebencian dan kepalsuan. Slogan demokrasi yang dibungkus&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">rapi dan disuguhkan di tengah sekolah, sebenarnya hanyalah \u201cnyanyian&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">palsu\u201d yang tidak ada manfaatnya. Karena itu, bebaskan sekolah dari&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">percaturan politik!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Pendidikan semestinya jangan berbasis \u201cproyek\u201d. Sebaik apapun&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">kurikulumnya, seindah apapun visi-misi dari sebuah sekolah, serapi&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">apapun rencana pendidikan yang disusun para guru dalam berbagai&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">seminar dan workshop, pada akhirnya hanya akan menjadi \u201csampah\u201d bagi&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">pendidikan. Sebab, sekolah telah menjadi proyek dan ladang mencari&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">keuntungan materi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Karena itu, bebaskan sekolah dan siswa kita dari riak-riak&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">\u201ckemusyrikan pendidikan\u201d agar pendidikan di Indonesia kembali kepada&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">fitrahnya. Bahwa, pendidikan harus berbasis tauhid, pengenalan diri&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">sendiri hingga pencapaian mengenal dan mendekati Allah. Pendidikan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">harus menjadi sumber cahaya yang mencerahkan dan menyenang siswa dalam&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">menuntut ilmu. Dan, pendidikan harus bebas dari intrik politik dan&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">proyek palsu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">Maka, kembalikan pendidikan di Indonesia kepada fitrahnya. Segera,&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">sekarang dan jangan ditunda-tunda lagi sebelum pendidikan mengalami&nbsp;<\/span><span style=\"color:rgb(34, 34, 34); font-family:arial,sans-serif; font-size:12.8000001907349px\">kerugian dan anak didik.&nbsp;<\/span><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, dialah orang yang&nbsp;beruntung. Begitulah Nabi Muhammad saw mengajarkan kepada kita, bahwa&nbsp;setiap hari harus ada peningkatan, ada trafik perkembangan ke arah&nbsp;yang lebih baik. Sebab, siapa yang hari ini masih sama dengan kemarin,&nbsp;disebut orang rugi. Meminjam istilah pesantren, \u201cwujuduhu ka&nbsp;\u2018adamihi\u201d, adanya seperti tidak ada.Yang lebih parah lagi, siapa yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2891,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-2892","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kolom-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2892","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2892"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2892\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2892"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2892"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2892"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}