{"id":3919,"date":"2020-03-04T08:19:23","date_gmt":"2020-03-04T08:19:23","guid":{"rendered":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/index.php\/2020\/03\/04\/pembelajaran-mubtada-khabar-dengan-metode-qiyasi-pada-tingkat-mutawasith\/"},"modified":"2020-03-04T08:19:23","modified_gmt":"2020-03-04T08:19:23","slug":"pembelajaran-mubtada-khabar-dengan-metode-qiyasi-pada-tingkat-mutawasith","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/pembelajaran-mubtada-khabar-dengan-metode-qiyasi-pada-tingkat-mutawasith\/","title":{"rendered":"Pembelajaran Mubtada\u201f Khabar dengan Metode Qiyasi Pada Tingkat Mutawasith"},"content":{"rendered":"<p class=\"rtejustify\"><em><strong>M<\/strong>ubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar <\/em>adalah salah satu cabang pembahasan dalam ilmu <em>nahwu<\/em>. Ilmu <em>nahwu <\/em>atau tata bahasa adalah salah satu unsur bahasa yang harus disampaikan dengan metode pemelajaran yang tepat. Dengan metode yang tepat, materi yang akan diajarkan akan mudah dipahami siswa.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<div>\n<p class=\"rtecenter\"><strong>Pembelajaran <em>Mubtada\u201f Khabar <\/em>dengan <em>Metode Qiyasi <\/em>Pada Tingkat Mutawasith<\/strong><\/p>\n<p class=\"rtecenter\"><em>Oleh: Mohammad Sofi Anwar (Mahasiswa PBA Angkatan&nbsp; 2016)<\/em><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">&nbsp;<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><em><strong>M<\/strong>ubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar <\/em>adalah salah satu cabang pembahasan dalam ilmu <em>nahwu<\/em>. Ilmu <em>nahwu <\/em>atau tata bahasa adalah salah satu unsur bahasa yang harus disampaikan dengan metode pemelajaran yang tepat. Dengan metode yang tepat, materi yang akan diajarkan akan mudah dipahami siswa.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Beberapa waktu lalu, saat penulis tengah Praktik Kerja Lapangan (PKL) di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Malang, penulis menerapkan metode <em>qiyas<\/em>i pada materi <em>mubtada\u201f khabar<\/em>. Syaiful Mustofa dalam bukunya yang berjudul Strategi Inovatif Pembelajaran Bahasa Arab mengatakan bahwa metode <em>qiyasi <\/em>adalah metode pembelajaran nahwu yang dimulai dengan menjelaskan <em>qowa\u201fid <\/em>terlebih dahulu. Setelah para siswa memahami <em>qowa\u201fid <\/em>yang dijelaskan, mereka diinstruksikan untuk membuat contoh dari <em>qowaid <\/em>yang telah dipahami.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Sekilas metode <em>qiyasi <\/em>memang terkesan monoton dan kurang inovatif. Tetapi penulis berusaha mengombinasikan dengan strategi komunikatif. Strategi komunikatif ini dilakukan dengan memberi soal tanya jawab pada siswa. Soal tanya jawab diberikan pada tiap tahap pembelajaran. Hal ini dilakukan untuk menghidupkan suasana kelas, selain itu bertujuan untuk memancing partisipasi aktif siswa.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Berdasarakan apa yang diungkapkan Syaiful Musthofa, penulis mengajarkan <em>mubtada\u201f khabar <\/em>diawali dengan memberi pengertian dari materi <em>qowa\u201fid <\/em>yang sedang dipelajari. Dalam hal ini tentunya mubtada\u201f khabar. Setiap siswa harus dipastikan memahami pengertian <em>mbubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>. Oleh karenanya, untuk memantapkan pemahaman siswa penulis bertanya kepada setiap siswa secara acak.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"rtejustify\">Setelah sebagian besar siswa memahami pengertian <em>mubtada\u201f khabar <\/em>secara acak, mereka diberi penjelasan ciri-ciri dari <em>mubtada dan khabar<\/em>. Misalnya berupa <em>fi\u201fil <\/em>atau <em>fa\u201fil <\/em>juga harakat dari <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>. Melalui harakat inilah dapat diketahui apakah jumlah yang ada berkedudukan sebagai <em>mubtada\u201f <\/em>atau <em>khabar<\/em>. Setiap siswa diharapkan memahami ciri-ciri dari <em>mubtada <\/em>dan <em>khabar<\/em>, oleh karenanya para siswa ditanya secara acak mengenai ciri-ciri <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar.<\/em><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Pengertian dari <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar <\/em>sudah dipahami siswa, begitupun dengan ciri-cirinya. Barulah mereka diberi beberapa contoh jumlah singkat yang mengandung <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>. Para siswa dipancing untuk menunjukan mana kalimat yang berkedudukan sebagai <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>. Pada tahap ini siswa masih dipantau untuk menunjukan <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar <\/em>dari jumlah yang disediakan. Untuk memantapkan pemahaman mereka, pada tahap ini setiap siswa diberi jumlah dan diminta untuk menunjukan <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>nya. Selanjutnya para siswa diminta untuk mengidentifikasi teks percakapan yang mengandung <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>. Di mana teks percakapan ini sudah dibahas bersama pada pertemuan sebelumnya. Pemahaman mengenai <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar <\/em>harus dituntaskan pada tahap membuat contoh jumlah yang mengandung <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>. Pada tahap pembuatan contoh ini para siswa akan memadukan pemahaman mereka tentang <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>, berikut ciri-ciri yang telah diajarkan. Jika para siswa sudah memahami pengertian dan ciri-cirinya ditambah dengan tugas untuk menunjukkan <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>, para siswa pasti bisa membuat contoh tentang <em>mubtada\u201f <\/em>dan <em>khabar<\/em>. Minimal mereka bisamembuat 1 contoh di kelas, dan 5-10 contoh di rumah sebagai pekerjaan rumah (PR).<\/p>\n<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mubtada\u201f dan khabar adalah salah satu cabang pembahasan dalam ilmu nahwu. Ilmu nahwu atau tata bahasa adalah salah satu unsur bahasa yang harus disampaikan dengan metode pemelajaran yang tepat. Dengan metode yang tepat, materi yang akan diajarkan akan mudah dipahami siswa.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-3919","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3919","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3919"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3919\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/ar\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}