{"id":13850,"date":"2026-05-30T15:47:30","date_gmt":"2026-05-30T15:47:30","guid":{"rendered":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/?p=13850"},"modified":"2026-05-30T15:51:36","modified_gmt":"2026-05-30T15:51:36","slug":"transformasi-pedagogi-kurban-membedah-epistemologi-pengorbanandalam-ekosistem-pendidikan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/transformasi-pedagogi-kurban-membedah-epistemologi-pengorbanandalam-ekosistem-pendidikan-indonesia\/","title":{"rendered":"Transformasi Pedagogi Kurban: Membedah Epistemologi Pengorbanandalam Ekosistem Pendidikan Indonesia"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"13850\" class=\"elementor elementor-13850\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-5e3e163 e-flex e-con-boxed e-con e-parent\" data-id=\"5e3e163\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\n\t\t\t\t\t<div class=\"e-con-inner\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-9e283e5 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"9e283e5\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<h3 style=\"text-align: center;\"><strong>Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA.<\/strong><\/h3><p><strong><b>Pendahuluan: Kurban Beyond Ritual<\/b><\/strong><\/p><p>Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan penyembelihan hewan kurban. Namun, jika kita tarik garis lurus ke dalam dunia pendidikan, kurban bukan sekadar ritual simbolis penyembelihan ternak, melainkan sebuah manifestasi dari <strong><b>pedagogi ketulusan<\/b><\/strong>\u00a0dan <strong><b>manajemen prioritas<\/b><\/strong>. Dalam konteks pendidikan modern yang sering terjebak dalam pragmatisme dan komodifikasi, nilai-nilai kurban menawarkan kompas moral untuk merevitalisasi hubungan antara pendidik, peserta didik, dan ilmu pengetahuan itu sendiri.<\/p><ol><li><b><\/b><strong><b>Landasan Teologis: Ketaatan dan Literasi Iman<\/b><\/strong><\/li><\/ol><p>Akar dari kurban adalah kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang diabadikan dalam Al-Qur&#8217;an Surah Ash-Shaffat ayat 102:<\/p><p><em><i>&#8220;Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: &#8216;Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!&#8217;&#8230;&#8221;<\/i><\/em><\/p><p>Dalam konteks pendidikan, ayat ini mengandung <strong><b>dialog pedagogis<\/b><\/strong>\u00a0yang luar biasa. Ibrahim sebagai bapak (pendidik) tidak memaksakan kehendak secara otoriter, melainkan mengajak diskusi (<em><i>&#8220;Fandzhur madza tara&#8221;<\/i><\/em>) Ismail sebagai anak (peserta didik). Ini adalah dasar dari <em><i>student-centered learning<\/i><\/em>, di mana proses pendidikan harus melibatkan kesadaran kritis peserta didik, bukan sekadar indoktrinasi. Kurban dalam pendidikan berarti pengorbanan ego guru untuk mendengarkan dan menghargai potensi unik setiap siswa. Hal ini sebagaimana tujuan Pendidikan yaitu mengembangkan potensi peserta didik.<\/p><ol start=\"2\"><li><b><\/b><strong><b>Kurban sebagai Simbol Intelektualitas dan Jihad Ilmu<\/b><\/strong><\/li><\/ol><p>Pendidikan adalah proses &#8220;penyembelihan&#8221; sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia\u2014seperti kemalasan, keserakahan, dan kebodohan\u2014untuk menumbuhkan sifat-sifat kemanusiaan yang luhur (insan kamil). Kemalasan dalam mencari ilmu akan mengakibatkan kebodohan. Keserakahan itu sendiri menunjukkan kebodohan dan kebodohan adalah simbol rendahnya intelektualitas. Maka penyembelihan sifat-sifat buruk diatas adalah dalam rangka untuk memunculkan sifat-sifat baik, yaitu disiplin, kerja keras, jihad dalam rangka mencari ilmu, membuka Cahaya intelektual dan menggapai kesuksesan hidup. Karena Rasulullah menyampaikan \u201c Barangsiapa yang menginginkan (kesuksesan) di dunia, maka harus dengan ilmu dan barangsiapa mengiginkan (kebahagiaan) di akhirat juga harus dengan ilmu. Rasulullah SAW juga bersabda:<\/p><p><em><i>&#8220;Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.&#8221;<\/i><\/em>\u00a0(HR. Muslim).<\/p><p>Jalan menuju ilmu pengetahuan adalah jalan yang penuh pengorbanan (<em><i>sacrifice<\/i><\/em>). Tidak ada keberhasilan akademik tanpa adanya sesuatu yang dikurbankan: waktu luang, kenyamanan, hingga biaya. Dalam teori <em><i>Human Capital<\/i><\/em>, pengorbanan ini disebut sebagai investasi masa depan, dimana ilmu pengetahuan adalah modal intelektual yang akan dapat meningkatkan daya saing individu dalam pendidikan, ekonomi, saosial dan perkembangan karier professional dimasa yang akan datang. Dalam perspektif Islam, ini adalah bentuk ibadah yang nilai pahalanya disejajarkan dengan darah syuhada yang ganjaranya adalah masuk surga.<\/p><ol start=\"3\"><li><b><\/b><strong><b>Dialektika Guru dan Murid: Pengorbanan di Garis Depan<\/b><\/strong><\/li><\/ol><p>Seorang pendidik adalah &#8220;penyembelih&#8221; ketidaktahuan. Guru mengurbankan energi, pikiran, dan seringkali kepentingan pribadi mereka demi memastikan cahaya ilmu sampai ke sanubari murid. Di sisi lain, murid harus memiliki jiwa &#8220;Ismail&#8221;\u2014jiwa yang siap ditempa, siap meninggalkan zona nyaman, dan taat pada proses meskipun proses tersebut terasa menyakitkan atau berat. Integrasi antara ketulusan Ibrahim (pendidik) dan kepatuhan Ismail (peserta didik) menciptakan ekosistem pendidikan yang harmonis. Tanpa semangat kurban, pendidikan hanya akan menjadi transaksi jual-beli jasa yang dingin dan tanpa ruh.<\/p><p>Ungkapan &#8220;Dialektika Guru dan Murid&#8221; merepresentasikan sebuah manifestasi sosiologis dan pedagogis yang mendalam mengenai relasi diskursif dalam ekosistem pendidikan. Dalam lensa epistemologi kontemporer, hubungan antara pendidik dan peserta didik tidak lagi dipandang secara linier-mekanistik\u2014di mana guru bertindak sebagai satu-satunya otoritas pengetahuan (<em><i>depositor<\/i><\/em>) dan murid sebagai wadah pasif yang menerima (<em><i>tabula rasa<\/i><\/em>). Sebaliknya, interaksi ini bergeser menjadi sebuah ruang dialektika yang dinamis, sebuah medan diskursus di mana pengetahuan diproduksi, dinegosiasikan, dan ditransformasikan secara bersama melalui tindakan komunikatif yang emansipatif.<\/p><ol start=\"4\"><li><b><\/b><strong><b>Akreditasi Moral: Kurban dan Kualitas Karakter<\/b><\/strong><\/li><\/ol><p>Kurban adalah bentuk &#8220;akreditasi moral&#8221; tertinggi. Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Hajj ayat 37:<\/p><p><em><i>&#8220;Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya&#8230;&#8221;<\/i><\/em><\/p><p>Substansi ini sangat relevan dengan evaluasi pendidikan. Skor TOEFL yang tinggi, IPK 4.0, atau akreditasi institusi &#8220;Unggul&#8221; hanyalah &#8220;daging dan darah&#8221; jika tidak disertai dengan integritas dan ketakwaan sosial. Pendidikan kependidikan kita harus mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya mahir secara teknis (TPACK), tetapi juga memiliki semangat pengabdian (spirit kurban) untuk membangun peradaban, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau.<\/p><p>Pendidikan Indonesia hari ini menghadapi ujian serupa. Kita seringkali terbelenggu oleh &#8220;berhala&#8221; berupa zona nyaman akademik: kurikulum yang usang, metode ceramah satu arah yang menjemukan, dan sistem administrasi yang kaku. Banyak pendidik dan institusi terjebak dalam ego nostalgia, merasa bahwa &#8220;cara lama tetap yang terbaik karena telah melahirkan kita.&#8221; Namun, Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah atsar yang masyhur: &#8220;Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.&#8221; Mengacu pada hadis ini, mempertahankan metode lama yang tidak lagi relevan dengan era disrupsi digital adalah bentuk keangkuhan intelektual. Pengorbanan ego di sini berarti keberanian pendidik untuk kembali menjadi &#8220;murid&#8221; di hadapan teknologi. Mengadopsi TPACK (<em><i>Technological Pedagogical Content Knowledge<\/i><\/em>) bukan sekadar menambah perangkat lunak, melainkan menyembelih rasa gengsi pendidik yang merasa sudah paling tahu segalanya<\/p><ol start=\"5\"><li><b><\/b><strong><b>Relevansi Sosial: Pendidikan untuk Keadilan<\/b><\/strong><\/li><\/ol><p>Daging kurban didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini adalah pesan kuat tentang <strong><b>Demokratisasi Pendidikan<\/b><\/strong>. Pendidikan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir elit (<em><i>oversupply<\/i><\/em>\u00a0di kota besar, namun kekurangan di pelosok). Semangat kurban menuntut adanya redistribusi akses pendidikan yang adil. LPTK dan lembaga pendidikan tinggi harus menjadi penggerak utama dalam mengurangi kesenjangan kognitif di masyarakat. Kurikulum yang kita desain harus memiliki orientasi &#8220;berbagi&#8221;. Ilmu yang diperoleh mahasiswa harus diaplikasikan untuk memecahkan masalah nyata di masyarakat, bukan sekadar disimpan dalam skripsi yang berdebu di perpustakaan. Pendidikan harus memberikan dampak nyata untuk kesejahteraan masyarakat, produktifitas, inovasi kerja dan kekuatan ekonomi, disamping penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan.<\/p><p><strong><b>Relevansi Sosial untuk Pendidikan yang Berkeadilan<\/b><\/strong>\u00a0merupakan sebuah manifes pedagogis yang menegaskan bahwa institusi pendidikan tidak boleh berdiri sebagai &#8220;menara gading&#8221; yang terisolasi dari realitas dinamika masyarakat. Secara akademis, konsep ini berakar pada teori pedagogi kritis (<em><i>critical pedagogy<\/i><\/em>) yang memandang pendidikan bukan sekadar instrumen reproduksi ekonomi atau transfer pengetahuan kognitif murni, melainkan sebagai agen transformasi sosial yang aktif. Pendidikan yang memiliki relevansi sosial adalah pendidikan yang kurikulum, metodologi, dan orientasinya secara sengaja didesain untuk merespon, menganalisis, dan memecahkan problematika riil di masyarakat, seperti kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan marjinalisasi sosial.<\/p><p>Dalam kaitannya dengan keadilan, konsep ini menuntut adanya <strong><b>demokratisasi akses dan mutu pembelajaran<\/b><\/strong>. Pendidikan untuk keadilan (<em><i>education for justice<\/i><\/em>) bertindak sebagai pembongkar sekat-sekat hak istimewa (<em><i>privilege<\/i><\/em>) kelompok tertentu. Ketika kurikulum dirancang dengan sensitivitas sosial yang tinggi, proses pembelajaran di kelas\u2014seperti dalam implementasi Wajib Belajar 13 Tahun\u2014tidak lagi memaksakan standar tunggal yang bias terhadap kelompok urban-borjuis. Sebaliknya, pendidikan menjadi ruang emansipatif yang membekali peserta didik dari berbagai latar belakang sosio-ekonomi dengan kesadaran kritis (<em><i>critical consciousness<\/i><\/em>).<\/p><p>Melalui artikulasi ini, keadilan diwujudkan ketika setiap anak memiliki hak yang sama untuk berkembang tanpa terhambat oleh penjenjangan struktural sistem pendidikan. Pendidikan yang relevan secara sosial pada akhirnya bermuara pada pembentukan modal manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan empati sosial untuk merajut tatanan masyarakat yang lebih inklusif, setara, dan berkeadilan<\/p><ol start=\"6\"><li><b><\/b><strong><b>Menghadapi Tantangan Zaman: Kurban di Era Disrupsi<\/b><\/strong><\/li><\/ol><p>Di era digital, kurban dalam pendidikan juga berarti berani &#8220;menyembelih&#8221; metode-metode lama yang sudah tidak relevan. Transformasi kurikulum\u2014seperti yang telah kita diskusikan\u2014membutuhkan keberanian institusional untuk meninggalkan zona nyaman birokrasi demi mengadopsi teknologi dan inovasi baru. Ini adalah pengorbanan institusional demi kelangsungan masa depan generasi. Penggunaan model Case Method dan Project Based Learning adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan kompetensi yang dibutuhkan lulusan di era ini dengan meninggalkan metode-metode yang usang yang kurang interaktif dan bersifat <em><i>monorel<\/i><\/em>.<\/p><p>Menyembelih metode lama adalah tindakan heroik. Ini adalah bentuk kurban intelektual di mana kita melepaskan kenyamanan hari ini untuk membeli kejayaan masa depan. Sebagaimana Nabi Ismail digantikan dengan domba yang mulia, pengorbanan metode lama kita akan digantikan oleh generasi emas yang kompeten, berkarakter, dan siap memimpin peradaban global. Tanpa keberanian untuk &#8220;menyembelih&#8221; ego dan cara-cara usang, kita hanya akan merayakan seremoni pendidikan tanpa pernah menyentuh hakikat transformasinya<\/p><p><strong><b>Penutup: Menuju Pendidikan yang Visioner<\/b><\/strong><\/p><p>Sebagai kesimpulan, kurban adalah ruh dari pendidikan itu sendiri. Ia mengajarkan kita bahwa untuk mencapai puncak peradaban, diperlukan dedikasi yang tanpa pamrih, dialog yang inklusif, dan komitmen pada kualitas di atas kuantitas. Mari kita jadikan setiap proses belajar-mengajar sebagai altar pengabdian, di mana ego pribadi dikurbankan demi tegaknya kebenaran ilmiah dan kemaslahatan umat. Dengan semangat kurban, prodi kependidikan kita tidak hanya akan menghasilkan guru, tetapi akan melahirkan pemimpin-pemimpin pembelajaran yang memiliki ketangguhan mental Ibrahim dan kecerdasan spiritual Ismail.<\/p><p><!-- \/wp:paragraph --><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Walid, MA. Pendahuluan: Kurban Beyond Ritual Setiap tahun, umat Muslim di seluruh dunia merayakan Idul Adha dengan penyembelihan hewan kurban. Namun, jika kita tarik garis lurus ke dalam dunia pendidikan, kurban bukan sekadar ritual simbolis penyembelihan ternak, melainkan sebuah manifestasi dari pedagogi ketulusan\u00a0dan manajemen prioritas. Dalam konteks pendidikan modern yang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13851,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-13850","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13850","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13850"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13850\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13859,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13850\/revisions\/13859"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13851"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}