{"id":2921,"date":"2020-01-02T08:49:47","date_gmt":"2020-01-02T08:49:47","guid":{"rendered":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/index.php\/2020\/01\/02\/dosis-nahwu\/"},"modified":"2020-01-02T08:49:47","modified_gmt":"2020-01-02T08:49:47","slug":"dosis-nahwu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/dosis-nahwu\/","title":{"rendered":"Dosis Nahwu"},"content":{"rendered":"<p class=\"rtejustify\"><strong>K<\/strong>redibilitas seseorang dalam menekuni suatu ilmu pengetahuan sangat di pengaruhi dengan apa-apa yang menunjang keilmuan tersebut. Bisa di bilang seorang pakar tertentu tidak akan bisa menyelesaikan proyeknya kecuali dengan bantuan pakar dalam bidang lainnya.<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p class=\"rtecenter\"><span style=\"font-size:14px\"><strong>Dosis Nahwu<\/strong><\/span><\/p>\n<p class=\"rtecenter\"><em>Oleh Muhammad Al Farobi (Mahasiswa PBA angkatan 2016)<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><strong>K<\/strong>redibilitas seseorang dalam menekuni suatu ilmu pengetahuan sangat di pengaruhi dengan apa-apa yang menunjang keilmuan tersebut. Bisa di bilang seorang pakar tertentu tidak akan bisa menyelesaikan proyeknya kecuali dengan bantuan pakar dalam bidang lainnya. Sebagai contoh adalah seorang sipil akan sangat membutuhkan gagasan dan rancangan arsitek. Seorang arsitek tidak harus menguasai ilmu sipil begitu pun sebaliknya. Itu mengindikasikan bahwa tidak ada prasyarat khusus menguasai teknik sipil bagi arsitek, begitu jugatidak adaprasyarat khusus menguasai arsitektur bagisipil.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Semua hal itu tidak berlaku bagi ilmu Bahasa Arab. Bahasa arab menjadi prasyarat bagi seorang yang ingin mendalami ilmu agama terlebih khusus ilmu tafsir dan ilmu Hadist. Bahasa arab disini bukan berarti yang penting bisa berbahasa arab seperti kalam maupun kitabah, ataupun ketrampilan lainnya, akan tetapi menguasai ilmu cabang bahasa arab seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lainnya.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Seorang tidak akan bisa menjadi mufasir maupun muhaddits sebelum menguasai nahwu, karena dengan Nahwu ia akan bisa memaknai kalam Illahi dan Hadist Rasul. Syekh Syarifuddin Al-Imrity dalam mandlumah Imrity mengatakan:<\/p>\n<h1 class=\"rtejustify\" dir=\"RTL\">\u0643\u064a \u064a\u0641\u0647\u0645 \u0645\u0639\u0627\u064a\u0646 \u0627\u0644\u0642\u0631\u0622\u0646 \u2013 \u0648\u0627\u0644\u0633\u0646\u0629 \u0627\u0644\u062f\u0642\u064a\u0642\u0629 \u0627\u0645\u0644\u0639\u0627\u064a\u0646 \u0648\u0627\u0644\u0646\u062d\u0648 \u0623\u0648\u0649\u0644 \u0623\u0648\u0627\u0644 \u0623\u0646 \u064a\u0639\u0644\u0645 \u2013 \u0625\u0630 \u0627\u0644\u0643\u0627\u0644\u0645 \u062f\u0648\u0646\u0647 \u0627\u0644 \u064a\u0641\u0647\u0645<\/h1>\n<\/div>\n<p class=\"rtejustify\"><em>Bagaimana seorang dapat memahami makna-makna Al-Qur\u201fan Dan Hadits yang lembut maknanya<\/em><\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><em>Nahwu adalah pertama dan paling utama untuk di pelajari Karenatanpanya Al-Qur\u201fantidakdapatdipahami<\/em><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Maka para ulama menjelaskan bahwa wajib bagi seorang yang mempelajari tafsir Al-Qur\u201fan agar mempelajari Ilmu <em>Nahwu<\/em>.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Tulisan ini telah dimuat di:<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/alaartikel\/5d84f4bf0d82305b3e155482\/dosis-nahwu\">https:\/\/www.kompasiana.com\/alaartikel\/5d84f4bf0d82305b3e<\/a> <a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/alaartikel\/5d84f4bf0d82305b3e155482\/dosis-nahwu\">155482\/dosis-nahwu<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kredibilitas seseorang dalam menekuni suatu ilmu pengetahuan sangat di pengaruhi dengan apa-apa yang menunjang keilmuan tersebut. Bisa di bilang seorang pakar tertentu tidak akan bisa menyelesaikan proyeknya kecuali dengan bantuan pakar dalam bidang lainnya.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-2921","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2921","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2921"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2921\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2921"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2921"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2921"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}