{"id":3866,"date":"2020-01-31T07:06:47","date_gmt":"2020-01-31T07:06:47","guid":{"rendered":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/index.php\/2020\/01\/31\/belajar-bahasa-arab-sambil-menghafal-nadzom\/"},"modified":"2020-01-31T07:06:47","modified_gmt":"2020-01-31T07:06:47","slug":"belajar-bahasa-arab-sambil-menghafal-nadzom","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/belajar-bahasa-arab-sambil-menghafal-nadzom\/","title":{"rendered":"Belajar Bahasa Arab Sambil Menghafal Nadzom"},"content":{"rendered":"<p class=\"rtejustify\"><strong>B<\/strong>anyak kitatemui literatur bahasa Arab di sekitar kita. Mulai dari Al- Qur\u201fan, kitab kuning, naskah syi&#8217;ir, buku sholawat dan lain-lain. Semua itu akan dengan mudah kita temukan di beberapa lembaga pendidikan, terutama pondok pesantren Mungkin memang sudah menjadi rumahnya kalau pondok pesantren dipenuhi oleh literatur<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<div>\n<p class=\"rtecenter\"><strong>Belajar Bahasa Arab Sambil Menghafal <em>Nadzom <\/em><\/strong><\/p>\n<p class=\"rtecenter\"><em>Oleh Muhammad Muchibbul Firdausi (Mahasiswa PBA Angkatan 2016)<\/em><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">&nbsp;<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><strong>B<\/strong>anyak kitatemui literatur bahasa Arab di sekitar kita. Mulai dari Al- Qur\u201fan, kitab kuning, naskah syi&#8217;ir, buku sholawat dan lain-lain. Semua itu akan dengan mudah kita temukan di beberapa lembaga pendidikan, terutama pondok pesantren Mungkin memang sudah menjadi rumahnya kalau pondok pesantren dipenuhi oleh literatur berbahasa Arab,karena memang semua itu akan menjadi sumber dan media pembelajaran di pondok pesantren tersebut.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Terkadang kita juga mendengar istilah yang sangat akrab dengan pondok pesantren<em>. <\/em>Yaitu hafalan <em>nadzom<\/em>. Dari literatur bahasa Arab yang berbentuk <em>nadzom <\/em>(bait syair) tersebut harus dihafalkan oleh santri, terutama santri di pondok salaf. Selain menjadi faktor pendukung dalam belajar bahasa Arab, hafalan nadzom juga efektif untuk media dakwah dan syiar islam. Sebenarnya tidak ada yang sulit dalam menghafal <em>nadzom <\/em>di pondok pesantren.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Karena memang dulunya penulis artikel ini juga merupakan orang yang pernah merasakan langsung hal tersebut. Meskipun setiap hari kita dipaksa setoran sekitar 10 <em>nadzom <\/em>kepada ustadz tapi itu bukan menjadi penghambat kita dalam menghafal <em>nadzom <\/em>dan belajar bahasa Arab.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Lebih kepada <em>enjoy <\/em>dan tidak terbebani ketika kita menghafal <em>nadzom <\/em>berbahasa Arab tersebut. Bagaimana tidak? Semua <em>nadzom <\/em>yang telah kita hafal bisa kita &#8220;<em>lalar<\/em>&#8221; (lantunkan) dengan irama lagu pop Indonesia. Seperti lagu ridho roma-menunggu, lagu bojoku galak, kangen band-pujaan hati, lagu korban janji dan masih banyak lagi.<\/p>\n<\/div>\n<p class=\"rtejustify\">Tidak disadari bahwa dengan menghafal nadzom bisa menjadi media belajar berbahasa Arab. Karena pada saat itu juga santri-santri membaca berkali-kali bait syair yang berisi kalimat berbahasa Arab dan berusaha untuk menghafalkannya, otomatis kalimat\/<em>mufrodat <\/em>yang ada di <em>nadzom <\/em>tersebut akan terus ada dan diingat oleh santri.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Hal ini yang menjadi faktor pendukung dalam belajar bahasa Arab. Dalam artian dengan menghafal nadzom juga bisa membuat santri lebih cepat dan lebih banyak menghafal mufrodat untuk diucapkan dalam bahasa arab sehari-hari. Apakah bisa dipastikan kalau mereka bisa faham dengan yang dihafal? Bukankah mereka hanya sekedar menghafal kalimat perkalimat saja?<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Begini teman-teman, yang namanya pemahaman akan datang setelah tau dan ingat. Mereka menghafal <em>nadzom <\/em>memang belum dipastikan merekafaham pada saat itu juga. Akan tetapi lama kelamaan setelah menghafal itu akan datang pemahaman. Karena didalam <em>nadzom <\/em>imrithy karya syekh Syarifuddin Yahya Al-Imrithy tertulis didalamnya.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><em>&#8220;Dan semoga semuanya bisa memanfaatkan ilmunya # bagi mereka yang mendalami dengan menghafal dan memahaminya&#8221;<\/em><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Dalam kalimat tersebut tertulis terang bahwa menghafal terletak pada urutan pertama, setelah itu baru paham<em>. <\/em>Dapat disimpulkan bahwa dengan menghafal <em>nadzom <\/em>dapat membantu dalam memperbanyak mufrodat dan memahami kalimat kalimat berbahasa Arab<em>. <\/em>Dengan perantara tersebut akan mempermudah santri dalam belajar bahasa Arab.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Tulisan ini telah dimuat di:<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/muhammadmuchibbulfirdausi\/5d99e5bf0d823064b3017db2\/belajar-bahasa-arab-sambil-menghafal-nadzom\">https:\/\/www.kompasiana.com\/muhammadmuchibbulfirdausi\/5d99e5<\/a> <a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/muhammadmuchibbulfirdausi\/5d99e5bf0d823064b3017db2\/belajar-bahasa-arab-sambil-menghafal-nadzom\">bf0d823064b3017db2\/belajar-bahasa-arab-sambil-menghafal-<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak kitatemui literatur bahasa Arab di sekitar kita. Mulai dari Al- Qur\u201fan, kitab kuning, naskah syi&#8217;ir, buku sholawat dan lain-lain. Semua itu akan dengan mudah kita temukan di beberapa lembaga pendidikan, terutama pondok pesantren Mungkin memang sudah menjadi rumahnya kalau pondok pesantren dipenuhi oleh literatur<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-3866","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3866","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3866"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3866\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3866"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3866"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3866"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}