Site icon FITK

SEMINAR DAN KULIAH TAMU JURUSAN PAI

JURUSAN PAI – Membekali mahasiswa baru Tahun Akademik 2013/2014, Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Maliki Malang menyelenggarakan Kuliah Tamu yang menghadirkan narasumber nasional, Prof. Dr. KH. Muhammad Tholhah Hasan, MA.  Acara yang dibuka langsung oleh Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. Mudjia Rahardjo, M.Si.,  itu mengangkat tema “Reaktualisasi Nilai-nilai Al-Qur’an dalam Membangun Pendidikan karakteri” dan dihadiri lebih dari 500 mahasiswa bertempat di aula gedung rektorat (4/9/2013).

            Dalam sambutannya, Rektor berpesan bahwa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, yang dulunya Fakultas Tarbiyah UIN Maliki Malang, kini harus menjadi barometer, teladan, percontohan ditingkat nasional bahkan tingkat ASEAN.  “Fakultas Tarbiyah merupakan induk dari kampus ini dan kita berharap fakultas ini menjadi contoh tidak saja pada tingkat nasional, tapi juga tingkat ASEAN.” terangnya.

            Kuliah tamu yang disampaikan oleh Muhammad Tholhah Hasan, Menteri Agama Era Gus Dur itu, mengupas tentang urgennya pendidikan karakter dalam membangun kehidupan bangsa yang ideal. Pembangunan semberdaya manusia (SDM) Indonesia, harus diikuti dengan pembangunan karakter. Sebab beberapa temuan penelitian menunjukkan, bahwa pembangunan karakter akan lebih berhasil bila menyertakan tiga proses secara bersamaan, yakni proses intuitif (panggilan hati nurani), proses emotif (rangsangan emosi) dan proses kognitif (penalaran dan pengalaman). “Proses penilaian moral yang berlangsung dalam batin manusia merupakan hasil perpaduan antara “proses intuitif, emotif, dan kognitif.” Pasalnya.

            Membentuk karakter manusia memerlukan lingkungan, kultur atau budaya yang sehat dan harmonis. Karakter anak dibentuk melalui lingkungan keluarga, sekolah/madrasah, hingga perguruan tinggi. Selain itu, karekter juga dipengaruli oleh lingkungan sosial yang mengitarinya. Khusus dalam lingkungan pendidikan, ada beberapa unsur yang seharusnya menjadi perhatian bagi para pendidik, misalnya: menumbuhkan kepekaan moral (moral sensitivity), mengarahkan penilaian moral (moral judgement),  melatih penalaran moral (moral reasoning), dan membuat dorongan moral (moral motivation) dalam membentuk sikap dan perilaku sehari-hari secara individu maupun sosial. Penanaman karakter itu akan berhasil pasalnya, melalui “guru/pendidik sebagai teladan yang baik (uswah hasanah) yang berpengaruh.”

            Di akhir orasinya, Kyai Tholhah, juga mengingatkan bahwa menjadi guru masa depan harus menjadi sumber inpirasi bagi siapa saja. Guru harus siap jadi inspirasi bagi para peserta didik, juga bagi warga masyarakat luas. Lebih-lebih, dalam kurikulum 2013, pemerintah telah memberi tugas dan amanat, baik kepada Guru maupun peserta didik agar selalu peka terhadap perkembangan Iptek dan perubahan zaman. “Peserta didik diolah menjadi insan berpikir kritis, kreatif, dan berkarakter, sedangkan guru dituntut lebih cerdas, lebih serius, kreatif, berkarakter, dan memiliki keteladanan,” terangnya. Untuk menghadapi era global, guru harus membenahi diri sebagai great teacher (guru inspiratif), selain harus terampil dan dedikatif. [hid]Penulis: Mujtahid

Exit mobile version