{"id":3857,"date":"2020-01-28T05:17:10","date_gmt":"2020-01-28T05:17:10","guid":{"rendered":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/index.php\/2020\/01\/28\/pemula-dan-500-mufrodat\/"},"modified":"2020-01-28T05:17:10","modified_gmt":"2020-01-28T05:17:10","slug":"pemula-dan-500-mufrodat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/pemula-dan-500-mufrodat\/","title":{"rendered":"Pemula dan 500 Mufrodat"},"content":{"rendered":"<p><strong>B<\/strong>erbahasa adalah hal yang sering banyak ditemukan di beberapa pondok pesantren yang sudah menerapkan lingkungan berbahasa khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris. Banyak yang merasa senang berbahasa begitu pun sebaliknya, mereka merasa tertekan dengan adanya program tersebut karena biasanya ada hukuman bagi<\/p>\n<p><!--more--><\/p>\n<div>\n<p class=\"rtecenter\"><span style=\"font-size:14px\"><strong>Pemula dan 500 Mufrodat<\/strong><\/span><\/p>\n<p class=\"rtecenter\"><em>Oleh AahIstiqomah (Mahasiswa PBA Angkatan 2016)<\/em><\/p>\n<p class=\"rtejustify\">&nbsp;<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><strong>B<\/strong>erbahasa adalah hal yang sering banyak ditemukan di beberapa pondok pesantren yang sudah menerapkan lingkungan berbahasa khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris. Banyak yang merasa senang berbahasa begitu pun sebaliknya, mereka merasa tertekan dengan adanya program tersebut karena biasanya ada hukuman bagi yang melanggar. Itulah perihal kebiasaan, dan biasanya rasa tertekan itu dirasakan oleh santri baru yang belum bisa berbahasa.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Ketika berbahasa, hal pertama yang harus kita miliki adalah <em>mufrodat<\/em>. Berbicara <em>mufrodat<\/em>, banyak metode dan strategi yang diterapkan untuk menguasai <em>mufrodat <\/em>diantaranya metode <em>drill<\/em>, bernyanyi dan lain-lain. Namun, yang jadi permasalahannya tidak semua metode bisa diterapkan kepada siswa, akan tetapi tergantung kapasitas yang mereka miliki. Untuk itu, sebagai seorang guru, kita harus pintar memilih metode yang sesuai agar pembelajaran terasa menyenangkan dan tidak memberatkansiswa.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">\u201cPemula dan 500 <em>Mufrodat<\/em>\u201d adalah judul yang diangkat berdasarkan pengalaman penulis ketika PKL (Praktik Kerja Lapangan) yang kebetulan dari pihak pondok menargetkan semua siswa harus hafal 500 <em>mufrodat <\/em>dalam kurun waktu 20 hari. Menghafal 500 <em>mufrodat <\/em>dengan waktu tersebut sangatlah mudah bagi siswa yang sudah terbiasa belajar bahasa Arab, beda halnya dengan mereka yang samasekali belum pernah belajar bahasa Arab selain mengaji<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"rtejustify\">Kelas VII SMP merupakan masa transisi sekolah dasar dan sekolah menengah. Tak jarang ditemukan dari mereka yang belum bisa membaca Al-Quran atau huruf hijaiah. Itulah yang ditemukan penulis ketika mengajar. Awal mula mengajar, konsep pembelajaran telah tersusun dengan rapi, akan tetapi kadang pencapaian target pembelajaran tak sesuai dengan ekspektasi. Ketika belajar <em>mufrodat <\/em>dengan cara biasa\/<em>drill <\/em>mereka terlihat sangat kesusahan dan tertekan. Untuk itu, penulis menghadirkan beberapa cara agar siswa tetap hafal 500 <em>mufrodat <\/em>dalam waktu 20 hari tanpa memberatkan mereka:<\/p>\n<ol>\n<li class=\"rtejustify\">Menyanyikan <em>Mufrodat<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"rtejustify\">Ketika <em>mufrodat <\/em>dinyanyikan, mereka lebih senang belajar dan tanpa mereka sadari, ketika lagu <em>mufrodat <\/em>dinyanyikan berulang-ulang sebelum belajar mereka akan ingat dengan sendirinya. Akan tetapi, lagu <em>mufrodat <\/em>harus beraneka ragam agar tidak monoton.<\/p>\n<ol>\n<li class=\"rtejustify\">Bermain tebak kata<\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"rtejustify\">Bermain tebak kata sangat efektif dan menyenangkan untuk menguji hafalan <em>mufrodat <\/em>siswa setelah adanya nyanyian <em>mufrodat<\/em>. Siswa bisa saling bergantian mempraktikkan <em>mufrodat <\/em>tersebut tanpa menyebutkan kalimat apa pun. Akan tetapi memperagakannya dengan anggota tubuh kemudian siswa yang lain menebaknya dengan menyebutkan <em>mufrodat <\/em>dari peragaan tersebut.<\/p>\n<\/div>\n<ol>\n<li class=\"rtejustify\">Bermain kereta <em>mufrodat<\/em><\/li>\n<\/ol>\n<p class=\"rtejustify\">Kereta <em>mufrodat <\/em>adalah permainan menguji <em>mufrodat <\/em>dengan cara bermain kereta-keretaan. Biasanya ada dua orang yang membuat terowongan dengan cara pegangan kedua tangan (guru dan satu orang siswa) dan yang lainnya menjadi kereta dengan saling memegang bahu teman yang ada di depannya. Cara bermainnya, semua peserta didik bernyanyi lagu-lagu <em>mufrodat <\/em>dan ditengah-tengah nyanyian, guru yang bertugas menjadi terowongan menangkapnya. Setelah ditangkap, guru menanyakan arti dari <em>mufrodat<\/em>, ketika berhasil menjawab, maka siswa tersebut menggantikan siswa sebelumnya yang menjadi terowongan. Akan tetapi, ketika belum berhasil menjawab, siswa tersebut tetap menjadi kereta- keretaannya dengan siswa yanglainnya.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">3 cara ini Insya Allah sedikit membantu teman-teman ketika mengajarkan <em>mufrodat <\/em>dengan menyenangkan kepada siswa yang belum pernah belajar bahasa Arab sebelumnya.<\/p>\n<p class=\"rtejustify\">Tulisan ini telah dimuat di:<\/p>\n<p class=\"rtejustify\"><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/aahistiqomah\/5d72e9690d8230070523f082\/pemula-dan-500-mufrodat\">https:\/\/www.kompasiana.com\/aahistiqomah\/5d72e9690d823<\/a> <a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/aahistiqomah\/5d72e9690d8230070523f082\/pemula-dan-500-mufrodat\">0070523f082\/pemula-dan-500-mufrodat<\/a><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbahasa adalah hal yang sering banyak ditemukan di beberapa pondok pesantren yang sudah menerapkan lingkungan berbahasa khususnya bahasa Arab dan bahasa Inggris. Banyak yang merasa senang berbahasa begitu pun sebaliknya, mereka merasa tertekan dengan adanya program tersebut karena biasanya ada hukuman bagi<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-3857","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-kolom-mahasiswa"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3857"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3857\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/fitk.uin-malang.ac.id\/zh\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}