MIU Login

MUHAMMAD, ANUGERAH UNTUK ALAM SEMESTA

Oleh: Prof. Dr. H. Uril Bahruddin, MA​.

Refleksi Maulid Nabi Muhammad 1448 H

Pendahuluan:

Di tengah dunia yang semakin sarat dengan pertikaian, kekerasan, dan kebencian, sosok Muhammad terasa semakin relevan untuk kembali dihadirkan. Allah menegaskan bahwa beliau diutus bukan hanya untuk satu bangsa atau satu zaman, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam” (QS. Al-Anbiya’: 107).

Karena itu, Maulid Nabi Muhammad 1448 H semestinya tidak berhenti pada mengenang sebuah peristiwa sejarah. Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah akhlak Muhammad hadir dalam kehidupan kita? Sudahkah kelembutan beliau tumbuh dalam keluarga kita, kepedulian beliau hidup dalam pendidikan kita, keadilan beliau mewarnai kepemimpinan kita, dan kasih sayang beliau terasa dalam hubungan sosial kita?

Sebab mencintai Nabi bukan sekadar memperbanyak penyebutan namanya. Cinta yang sejati akan mendorong seseorang untuk mengenal akhlaknya, mengikuti jejaknya, dan menghadirkan nilai-nilai risalahnya dalam kehidupan. Ketika dunia semakin kehilangan kasih sayang, sesungguhnya dunia semakin membutuhkan Muhammad.

Risalahnya Melampaui Batas Zaman dan Tempat:

Universalitas risalah Muhammad ditegaskan secara jelas dalam Al-Qur’an. Allah berfirman, “Katakanlah: Wahai manusia! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua” (QS. Al-A‘raf: 158). Perhatikan seruan “Wahai manusia!” Ia menunjukkan bahwa risalah Nabi Muhammad melampaui batas suku, bangsa, bahasa, wilayah, bahkan zaman. Beliau datang membawa cahaya petunjuk untuk mengenalkan manusia kepada Tuhannya, membebaskan mereka dari kesyirikan, kebodohan, dan kezaliman, serta membangun kehidupan berdasarkan iman, keadilan, kasih sayang, dan kemuliaan akhlak.

Bahkan jangkauan risalah tersebut tidak terbatas pada alam manusia. Al-Qur’an mengisahkan sekelompok jin yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan penuh perhatian, kemudian kembali kepada kaumnya untuk memberikan peringatan (QS. Al-Ahqaf: 29). Ini menunjukkan betapa luasnya cakupan risalah Muhammad. Ia adalah cahaya petunjuk yang melampaui apa yang dapat kita lihat dan jangkau.

Rahmatnya Menyentuh Semua:

Rahmat dan kasih sayang dalam ajaran Nabi Muhammad bukanlah kasih sayang yang terbatas kepada orang-orang yang kita sukai atau mereka yang sejalan dengan kita. Kasih saying dalam Islam merupakan sikap hidup yang menjangkau sesama manusia, bahkan makhluk hidup lainnya. Rasulullah bersabda, “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” Beliau juga mengajarkan, “Sayangilah makhluk yang ada di bumi, niscaya Dia yang di langit akan menyayangi kalian.”

Kepada orang-orang beriman, beliau adalah pelindung dan pembimbing yang sangat peduli. Al-Qur’an menggambarkan beliau sebagai sosok yang berat merasakan penderitaan umatnya, sangat menginginkan kebaikan bagi mereka, serta penuh kasih sayang kepada orang-orang beriman (QS. At-Taubah: 128). Beliau membimbing tanpa menyakiti, mengajarkan tanpa mempersulit, dan mengajak kepada kebaikan dengan kelembutan.

Kepada Ahlul Kitab, beliau menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan keadilan dan martabat manusia. Beliau membuka ruang hidup berdampingan, menjaga hak, dan mengajarkan agar hubungan dengan sesama dibangun di atas kebijaksanaan dan keadilan.

Bahkan kepada orang-orang yang menolak dan memusuhi dakwahnya, kasih sayang beliau tetap terasa. Penolakan mereka tidak membuat beliau tenggelam dalam dendam. Al-Qur’an menggambarkan betapa beliau hampir mencelakakan dirinya sendiri karena kesedihan melihat mereka tidak beriman (QS. Asy-Syu‘ara’: 3). Beliau lebih menginginkan keselamatan mereka daripada sekadar kemenangan atas mereka.

Kasih sayang itu juga sangat nyata kepada perempuan. Beliau mengangkat martabat ibu, memerintahkan penghormatan kepada istri, dan memberikan kedudukan mulia kepada anak-anak perempuan. Ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik, beliau menyebut “ibumu” hingga tiga kali sebelum menyebut ayah. Kepada keluarga, beliau bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.”

Kepada anak-anak, Nabi menunjukkan kasih sayang yang begitu natural. Beliau memperpanjang sujud ketika cucunya menaiki punggung beliau. Beliau mempercepat salat ketika mendengar tangisan seorang anak karena memahami kegelisahan ibunya. Ketika Hasan dan Husain datang saat beliau berkhutbah, beliau turun dari mimbar, menggendong keduanya, kemudian melanjutkan khutbah. Bagi beliau, anak bukan gangguan dalam kehidupan orang dewasa, tetapi amanah yang membutuhkan perhatian dan kelembutan.

Kepada anak yatim, beliau memberikan perhatian yang luar biasa. Al-Qur’an memerintahkan agar mereka diperlakukan dengan baik dan hak mereka dijaga. Rasulullah bahkan memberikan kabar gembira tentang kedekatan orang yang mengasuh anak yatim dengan beliau di surga. “Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini,” sabda beliau sambil mengisyaratkan kedekatan jari telunjuk dan jari tengah.

Kasih sayang beliau juga menjangkau para pekerja dan pembantu. Beliau mengingatkan bahwa mereka adalah saudara yang berada dalam tanggung jawab kita. Mereka tidak boleh dihina, dibebani di luar kemampuan, atau diperlakukan secara semena-mena. Mereka memiliki kehormatan dan hak yang harus dijaga.

Bahkan hewan pun tidak luput dari rahmat Muhammad. Beliau menceritakan seseorang yang memberi minum seekor anjing yang kehausan, lalu Allah mengampuni dosanya. Beliau juga menegaskan bahwa “pada setiap makhluk hidup terdapat pahala.” Sebaliknya, beliau mengecam orang yang menyiksa seekor kucing hingga mati. Ini adalah pelajaran penting bahwa kesalehan tidak hanya diukur dari hubungan kita dengan manusia, tetapi juga dari bagaimana kita memperlakukan makhluk Allah lainnya.

Yang lebih mengagumkan, rahmat itu tetap hadir ketika beliau memiliki kekuatan untuk membalas. Al-Qur’an mengajarkan bahwa kebencian terhadap suatu kaum tidak boleh membuat seseorang berlaku tidak adil (QS. Al-Ma’idah: 8). Keadilan tidak boleh hilang hanya karena perbedaan atau permusuhan. Inilah rahmat Muhammad, kekuatan yang tidak melahirkan kesewenang-wenangan, keadilan yang tidak kehilangan kasih sayang, dan kemenangan yang tidak dibangun di atas dendam.

Maulid: Menghadirkan Kembali Akhlak Nabi

Jika demikian luas rahmat Muhammad, maka pertanyaan terpenting pada momentum Maulid bukanlah sekadar “Seberapa meriah kita memperingati kelahiran Nabi?”, tetapi “Seberapa jauh akhlak beliau telah hidup dalam diri kita?”

Maulid Nabi seharusnya menjadi cermin. Di dalamnya kita melihat kembali wajah diri sendiri. Jika kita mengaku mencintai Muhammad, apakah keluarga kita merasakan kelembutan kita? Apakah mahasiswa dan peserta didik merasakan kepedulian kita? Apakah bawahan kita merasakan keadilan kita? Apakah orang yang berbeda dengan kita tetap merasakan penghormatan dari kita? Bahkan, apakah makhluk hidup di sekitar kita aman dari tangan dan perilaku kita?

Inilah makna cinta yang sesungguhnya. Cinta kepada Nabi tidak berhenti di lisan, tetapi menjelma menjadi akhlak. Ia hadir dalam cara kita berbicara, mendidik, memimpin, bekerja, memaafkan, memperlakukan orang lemah, dan menyikapi perbedaan.

Penutup:

Pada akhirnya, apa yang kita uraikan tentang rahmat Muhammad hanyalah setetes kecil dari samudra keteladanan beliau yang begitu luas. Beliau adalah anugerah Allah bagi alam semesta. Karena itu, semakin seseorang mengenal Muhammad, semestinya semakin lembut hatinya, semakin luas kasih sayangnya, semakin adil sikapnya, dan semakin besar manfaatnya bagi sesama.

Maulid bukan sekadar mengenang hari kelahiran seorang manusia agung. Maulid adalah panggilan untuk melahirkan kembali akhlak Muhammad dalam kehidupan kita. Sebab ketika dunia membutuhkan kedamaian, kita membutuhkan rahmat. Ketika manusia kehilangan kasih sayang, kita membutuhkan keteladanan. Dan ketika kehidupan semakin keras, kita semakin membutuhkan Muhammad. Muhammad adalah anugerah bagi alam semesta. Maka, bukti cinta kita kepadanya adalah menjadikan diri kita sebagai penerus dan pembawa rahmat bagi alam semesta. Wallahu A’lam.

 

Berita Terkait