Bulan Ramadhan tak menyurutkan semangat para mahasiswa untuk mengabdi. Walaupun hari terasa semakin melelahkan, perut yang sesekali berkerucuk mengeluh meminta jatah makan dan minum, belum lagi cuaca terik dan padatnya aktivitas yang meninabobokkan mata; seolah meminta berhenti sejenak, meeminta lelap. Aku

Rumah Tua Pengabdian

Oleh Evi Nur Rohmah (Mahasiswa PBA Angkatan 2016)

 

Bulan Ramadhan tak menyurutkan semangat para mahasiswa untuk mengabdi. Walaupun hari terasa semakin melelahkan, perut yang sesekali berkerucuk mengeluh meminta jatah makan dan minum, belum lagi cuaca terik dan padatnya aktivitas yang meninabobokkan mata; seolah meminta berhenti sejenak, meeminta lelap. Aku dan teman-teman tetap bertahan. Ya, ini adalah kegiatan pengabdian. Tentu saja harus tetap semangat.

Ini adalah salah satu cerita pengalaman yang sangat mengesankan. Saat menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab di akhir semester 2 rasanya ingin sesekali melakukan hal-hal baru dan produktif. Maklum, gelar „mahasiswa baru‟ masih melekat sebagai panggilan kami. Rasa kepo akan dunia kampus yang sangat fenomenal tentu menjadi cikal bakal keikutsertaan para mahasiswa dalam berbagai kegiatan salah satunya kegiatan pengabdian masyarakat. “Gebyar Ramadhan” namanya. Kegiatan ini baru dirintis oleh jurusan Pendidikan Agama Islam yang berfokus pada sistem mengajar di sekolah selama 3 hari. Bisa juga disebut „pondok Romadhon‟. Sesuai namanya, kegiatan pengabdian ini dilaksanakan pada liburan semester saat bulan Ramadhan sehingga tak mengganggu perkuliahan. Tujuannya tak lain adalah untuk menambah pengalaman para mahasiswa khususnya Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dalam pengajaran. Karena output dari mereka paling tidak menjadi seorang guru.

Singkat cerita, kegiatan ini tersebar di grup whatsapp hingga terbaca olehku. Bersama teman dari jurusan Bahasa dan Sastra Arab, kamipun mengajukan diri menjadi volunteer untuk kegiatan ini. Setelah semua persyaratan terpenuhi mulai dari breefing beberapa kali dengan ketua penyelenggara dan salah satu pembimbing dari pihak dosen, akhirnya berangkatlah kami di kota Batu. Para volunteer dibagi menjadi beberapa tim untuk mengajar di setiap sekolah yang telah ditetapkan. Kebetulan, aku dan temanku berada pada satu tim bersama dengan satu orang lainnya yang bertugas di sekolah Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sisir 04.

Hari pertama kami berangkat dari kampus. Dengan satu tas ransel berisi beberapa helai baju dan jaket yang kukenakan, kami bersama-sama berangkat ke sekolah masing-masing dengan grab. Bagi yang membawa motor, mereka berada di depan, memimpin. Setelah berselang 30 menit perjalanan, kami sampai pada sekolah masing-masing dan masih mengurus beberapa dokumen perizinan. Namun, sudah lama kami menunggu waktu dipersilahkan masuk kelas tapi tak terjadi. Alasannya, tentu saja kami terlambat sehingga kelas yangsemestinya kami masuki sudah dihandle oleh guru lainnya.kami sempat menunduk malu karena keterlambatan dan kelalaian yang sudah kami lakukan di hari pertama. Pengabdian pertama di sekolah selesai dengan perkenalan tim pengajar kepada 2 kelas yang akan kami masuki; kelas 1 dan 3. Sesuai rencana, besok kami akan mengisi kelas 1 pada pagi hari sedangkan kelas 3 menjelang siang.

Terik yang menyengat kulit mengajak kami untuk segera beranjak dari kegiatan di sekolah pada hari itu. Karena baru hari pertama, kami memutuskan untuk undur diri lebih awal mengingat barang bawaan kami yang masih terbungkus rapi di dalam ransel masih berada di kantor sekolah. Tak beberapa saat, mobil Grab membawa kami melengang menuju rumah tua yang kami jadikan basecamp saat kegiatan pengabdian.

Saat pertama kali sampai, kesan pertama kami adalah pada bangunannya. Bangunan tua, lapuk dan warna pagar yang memudar. Rumah ini merupakan rumah milik salah satu guru tempat pengabdian yang ditawarkan untuk kegiatan para volunteer. Bangunannya tak begitu besar dan kondisinya pun tidak termasuk layak untuk ditempati. Rumah ini memiliki 2 lantai. Namun pihak pemilik menyarankan agar tidak memakai lantai atas. Tak tahu apa alasannya. Saat kami masuk rumah terasa hawa yang aneh. Menyelip di antara anak rambut menyisakan hawa kemerindingan yang sangat. Selangkahdemi selangkahkami menyelidik memasukiruangan.

Dindingnya banyak yang terkelupas, terlihat semen yang merongrong dari salah satu sudut kamar. Setiap jengkal dinding menggantung beberapa foto tua wanita berambut sebahu. Mungkin pemiliknya, pikir kami. Berdebu, lembab dan baunya sudah seperti beberapa tahun tak berpenghuni. Karena hari semakin gelap dan tenagayangterkuras, kamipunberistirahat dikarpetsambilmenuggu berbuka.

Setelah membersihkan diri dan berbuka, kami banyak mengobrol tentang hari pertama pengabdian. Seperti biasa, ketua pengabdian memimpin breefing untuk evaluasi kegiatan. Setelah tak ada lagi keluhan, barulah ia bertanya pendapat kami tentang basecamp yang saat itu kami tempati untuk bermalam. Tiba-tiba ada salah satu rekan kami yang mengeluh tentang ketidaknyamanan dan kurangnya kebersihan. Sontak banyak yang mengiyakan pernyataan itu mengingat kami harus menempatinya selama 3 hari ke depan. Walaupun beberapa ada yang diam dan tak menanggapi namun dari air mukanya terlihat setuju. Lalu ketua pengabdian menjelaskan asal muasal mendapatkan rumah ini. Dari situ kami kaget bukan main, ternyatamemangbenar rumah tua yang akan kamitempatihingga 3 hari kedepan sudah tidak berpenghuni selama lebih dari 10 tahun. Pantas saja banyak fasilitas yang sudah tak berfungsi seperti semestinya, ditambah hawa keberadaan makhluk lain yang membuat bulu kuduk merinding. Tak heran memang karena mahasiswa merupakan makhluk pecinta gratisan, maka diambillah kesempatan itu sekadar untuk penghematan pengeluaran.

Hari semakin larut. Suasana hening tak bersuara. Deru kendaraan yang lalu lalang tak terdengar terhalang rintikan hujan. Lembab, dingin, tetap terjaga. Setelah pembagian kamar, kami mengakhiri sesi breefing dan evaluasi tim per sekolah dengan kondisi lelah. Kamar kami berukuran mini yang umumnya dipakai untuk 2 orang. Berhubung ketersediaan kamar yang kurang akhirnya setiap kamar berisi 5 orang beserta tas ransel masing-masing. Kami kelelahan tetapi mata tak mau terpejam. Tiba-tiba salah satu rekan kami dari kamar sebelah berteriak. Sontak teriakannya membangunkan sebagian dari kami yang terlelap karena cukup keras. Dengan terburu, ketua kami menghampiri dan menanyakan apa yang terjadi.

Kami berkerumun melihat apa yang terjadi. Mahasiswi itu terisak, menggeleng setiap ditanyai pertanyaan. Ketakutan kami semakin terasa ketika kami mencium bau wewangian seperti bunga melati yang menyeruak hidung. Lalu salah satu panitia yang dapat melihat hal „ghaib‟pun memperingatkan kami agar segera pindah dari rumah ini. Ia sempat merapal doa dan meminta maaf kepada si penunggu rumah atas kelancangan kami jika saja kami berbuat salah. Mungkin merasa terganggu dengan kedatangan kami di „rumah‟ mereka. Para panitia berusaha menghubungi pihak penanggungjawab agar segera menyediakan tempat tinggal lainnya. Beberapa saat kemudian kami mendapat telepon bahwa mereka mendapatkan villa milik salah satu kepala sekolah yang berada agak jauh dari rumah tua yang kami tempati saat ini. Proses pemindahan dilakukan secara berkala dengan menggunakan mobil. Secepatnya kami harus pindah karena takut menggangu tetangga yang sedang istirahat. Sesampainya di villa, kami akhirnya bisa tidur dengan perasaan tenang dan esoknya kami mengajar seperti biasa di sekolah selama 2 hari kedepan. Pengalaman yang menegangkan dan menyenangkan selama menjadi mahasiswa di Universitas Islam Negeri (UIN) Malang dengan kegiatan pengabdiannya.